Friday, January 8, 2010

Mazmur Daud 139


TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,
yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.
Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?
Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!





[+/-] Read More...

Tuesday, January 5, 2010

I am worry



Lord...I am worry...dissapointed at my self...afraid..really afraid...the future seems darker...seems gone for me...i feel like very lonely rite now..lord...times gone..and people moving but i am still stuck here...forgive me Lord...i know its my sin which cause me Lord....forgive me lord....



[+/-] Read More...

Friday, December 18, 2009

Tangisan Buaya

Tangisan buaya....munafik banget..manusai paling jijik, paling dosa...gue benci diriku sendiri..benci....manuisa paling berdosa....

[+/-] Read More...

Sunday, November 22, 2009

Tuhan Menghardik Ku

... Tetapi dahimu adalah dahi perempuan sundal, engkau tidak mengenal malu.
Bukankah baru saja engkau memanggil Aku: Bapaku! Engkaulah kawanku sejak kecil?
(Yeremia 3:3-4)

"Sungguh, bodohlah umat-Ku itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu." (Yeremia 4:22)

Ayat diatas sangat keras dan tajam...Yeremia menghardik dan mengutuk hipokrasi umat Yehuda...mereka memanggil TUHAN, TUHAN...tetapi pada saat yang sama mereka masih melakukan dosa bahkan mereka nggak malu akan dosa mereka.

Ayat diatas kayaknya ditujukan kepada aku..karena aku juga seperti umat Yehuda...berdoa pada saat yang sama melakukan dosa....ahh..aku jadi malu ama diri sendiri. Ternyata aku adalah manusia hipokrit...







[+/-] Read More...

Sunday, November 15, 2009

Allah Menyatakan Diri di gunung Herob



"Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa atau dengan kata lain "Still Small Voice" or "The Gentle Voice of God". Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu."(1 Raja-Raja 19:11-13)

Kadang kala kita mencari Tuhan untuk dapat bertemu dengan-Nya. Kita ingin Tuhan menyatakan diri dengan dahsyat yang serba WAH atau kadang kala kita ingin TUHAN membuat mukjijat supaya semua orang menjadi takjub tetapi sebenarnya kita salah karena TUHAN tidak menyatakan Diri-Nya seperti itu(bukan karena IA nggak bisa) cuma TUHAN ingin berbicara dari hati nurani kita, TUHAN ingin kita bertemu dengan-Nya lewat hati kita....

Masih ingat, ketika Allah mengutus Nabi Samuel untuk memilih Daud menjadi raja Israel?? TUHAN bersabda: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang ada di depan mata , tetapi TUHAN melihat hati" (1 sam 16:7)

Jadi konklusinya....TUHAN berbicara dan ingin bertemu dengan kita melalui hati nurani maka carilah TUHAN di dalam hatimu. Nah pertanyaannya adalah bagaiaman bisa mencari TUHAN dari hati nurani??

Gampang....sisakan 1 -2 jam setiap hari dan berdoalah dalam kyusuk atau dalam bahasa inggris disebut Quite Time with God....saya yakin TUHAN pasti menyatakan diri-Nya kepada kita semua...

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan
(Amsal 4:23)

Amin.

[+/-] Read More...

Tuesday, November 10, 2009

Hosea 13

BACKGROUND

The reign of Jeroboam II in Israel's northern kingdom (793-753 B.C.) was the "golden age" of the north, with great military successes and a thriving economy. Spiritually, however, the nation did not do so well. Hosea began his prophetic ministry near the end of Jeroboam's reign, and during most of his 40 years of ministry things only became worse, climaxing in Israel's fall in 722 (see 2 Kings 17). Four of Israel's final six kings assassinated their predecessors ("one murder after another," Hosea 4:2). As the last prophet before Israel's fall, Hosea pleaded with his people to turn to God and be saved. He warned of Israel's coming judgment but also of its final restoration. He has been called "the prophet of immediate doom and eventual hope." In obedience to an unusual instruction from God, Hosea married a prostitute and, as could be expected, endured her unfaithfulness in marriage (Hosea 1-3). The lessons he learned from his marriage helped him address the issue of Israel's unfaithfulness to God (Hosea 4-14). Hosea's ministry overlapped that of Amos and the first half of the ministries of Isaiah and Micah.

RECIPIENTS

Though he mentions Judah as well, Hosea addressed his prophecies primarily to the northern kingdom, which he often referred to as "Ephraim," the dominant tribe.

PURPOSE

To warn of God's impending judgment on Israel while showing the balance between his justice and his love:
• God's love does not mean he can forget sin. Sin must be punished.
• On the other hand, God's justice does not mean that he desires to completely end his relationship with his "wife" (Israel). God constantly tries to draw Israel back to himself. Even in the wake of judgment he will preserve a remnant.

Hosea 13:1-3 Once like champions, now like chaff. When Israel ("Ephraim") had been obedient to God, the whole world respected them (Hosea 13:1). But as they descended into idolatry, they had lost that influence and were now no more powerful than dew or chaff. Though Israel may still have appeared to be prosperous, its days were numbered and it would pass away.
Hosea 13:4-14 From rejection, to rejection, to restoration. God had saved Israel from Egypt only to find that, once they were secure, they rejected him (Hosea 13:4-6). Therefore God must reject them (see Hosea 14:4-7), but eventually he will restore them (see Hosea 14:4-7). Ultimately, Israel's defection will result not in the death of the nation but in the death of death itself (Hosea 13:14; compare 1 Cor. 15:55)!
Hosea 13:15-16 Judgment like the desert wind. Again using the figure of the hot east wind, Hosea warned of Israel's imminent judgment. It would be a time of unspeakable suffering.

Spiritual Lessons from Hosea
• Though God's calling Hosea to marry a prostitute was very unusual and was for a specific prophetic purpose, he may sometimes call us to do things that seem illogical or unproductive by human standards. When so called, we should readily obey. Abraham's willingness to offer Isaac is another example of such obedience (see Genesis 22:1-2).
• In a day of easy divorce, Hosea's efforts to win back his unfaithful wife provide a muchneeded
good example. The law provided for divorce (see Deut. 24:1) but only "as a
concession to [Israel's] hard-hearted wickedness" (Matthew 19:8). Divorce is never the
best option, even in cases of sexual infidelity.
• Though God disciplines us, he is also eager to forgive. God ordered Hosea to give his
children names with meanings suggesting judgment (Hosea 1:4, 6, 9) but later gave a
redeeming interpretation to those names (Hosea 1:10-2:1, 23). (See also Psalm 103:9;
Romans 9:25.)






[+/-] Read More...